Penelusuran Makam Patih Akar

Kegiatan penelusuran/pencarian Arsip Cagar Budaya di lakukan pada hari Rabu tanggal 27 Maret 2019, sesuai jadwal Tim menelusuri Makam Patih Akar yang pada informasi awal berlokasi di Desa Aikmel Utara, namun setelah melakukan konfirmasi di lokasi tersebut ternyata Makan Patih Akar sudah tidak berada dalam wilayah Desa Aikmel Utara karena terjadi pemekaran desa pada tahun 2010. Makam Patih Akar masuk dalam wilayah Desa Toya yang merupakan pecahan dari Desa Aikmel Utara. Setelah dilakukan kofirmasi ke Kantor Desa Toya ternyata lokasi Makam Patih Akar berada di Dusun Peneda yang berjarak kurang lebih 2 Km dari pusat Desa Toya  Kecamatan Aikmel. Untuk menuju ke lokasi harus melintasi jalan desa dan kecamatan dengan kondisi jalan yang rusak berat.

Pada saat melakukan penelusuran Tim didampingi oleh tiga orang narasumber yaitu Nistiawati Laili (Kasi Kesra Desa Toya), Nurhasanah (Juru Pemelihara Makam), Amaq Asrah (Orang Tua Nurhasanah/Mantan Juru Pemelihara Makam).

Makam Patih Akar berada di tengah-tengah pemakaman umum masyarakat Dusun Peneda, berjarak kurang lebih 50 meter dari makam Patih Akar terdapat juga makam istrinya yaitu makam Denda Aminah. Berbeda dengan makam-makam lainnya makam Patih Akar dan Denda Aminah telah dibuatkan bangunan khusus berbentuk rumah berukuran 7×5 meter. Makam Patih Akar dan makam Denda Aminah bukanlah tempat dikuburkannya jenazah Patih Akar dan Denda Aminah, makam tersebut hanyalah Petilasan (Makom atau tanda tempat menghilangnya Patih Akar dan istrinya Denda Aminah pada saat beristirahat, hal ini juga terlihat dari ukuran makam yang hanya 1,2×1,2 meter tidak seperti ukuran makam pada umumnya). Makam Patih Akar ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya pada tahun 2003.

Patih Akar adalah seorang tokoh penyebar agama Islam yang berasal dari Pulau Jawa yang memiliki nama asli Sayid Haji Abdul Munir, beliau adalah salah seorang keturunan Wali Songo. Kedatangannya ke Pulau Lombok diperkirakan pada abad ke-14 M dengan tujuan untuk menyebarkan Agama Islam di wilayah Kerajaan Selaparang, beliau menikah dengan seorang putri bangsawan Lombok yang berasal dari Aikmel bernama Denda Aminah yang kemudian Denda Aminah berganti nama menjadi Hj. Denda Aminatul Aeni setelah selesai melakukan ibadah haji.

Saat melaksanakan kegiatannya menyebarkan Agama Islam di wilayah Kerjaaan Selaparang Patih Akar banyak mendapat rintangan dan tatangan  bahkan sering mendapatkan perlakuan tidak baik sampai pengusiran oleh masyarakat setempat. Pada suatu hari ketika sedang menlaksanakan dakwah atau syiar Agama Islam bersama Istrinya Denda Aminah (Hj. Denda Aminatul Aeni), tiba-tiba beliau dikejar dan diancam akan dibunuh oleh masyarakat setempat, karena khawatir akan ancaman tersebut Patih Akar dan istrinya melarikan diri keluar dari wilayah Kerajaan Selaparang sampai ke pinggir Kokok Tanggek (Sungai Tanggek), untuk bisa selamat dari kejaran orang yang membunuhnya harus menyebrangi Kokok (Sungai) Tanggek yang ketika itu belum ada jembatan atau titian sehingga dalam kondisi ketakutan yang luar biasa Patih Akar dan istrinya turun ke bawah Kokok (Sungai) Tanggek yang sangat curam dan dalam kemudian berjuang naik kembali ke seberang dengan menggunakan akar pohon. Setelah sampai di atas mereka melanjutkan perjalanannya memasuki hutan sejauh kurang lebih 1 km dari yang sangat curam dan dalam kemudian berjuang naik kembali ke seberang Kokok (Sungai) Tanggek, karena kelelahan Patih Akar dan Istrinya Denda Aminah (Hj. Denda Aminatul Aeni) beristirahat di tempat yang terpisah berjarak kurang lebih 50 meter. Kebetulan ada seseorang yang menggembala kerbau di tempat itu yang melihat Patih Akar dan Istrinya Denda Aminah (Hj. Denda Aminatul Aeni) sedang beristirahat kemudian tiba-tiba menghilang entah kemana, lalu si penggembala kerbau tersebut menacapkan batang kayu di titik tempat menghilangnya Patih Akar dan Denda Aminah (Hj. Denda Aminatul Aeni). Tempat tersebut tetap dijaga dan dirawat kemudian batang kayu yang digunakan sebagai tanda tempat menghilangnya Patih Akar dan Denda Aminah (Hj. Denda Aminatul Aeni) diganti dengan batu nisan dan tempat itu dibuat seolah-olah sebagai makam.

Seiring dengan berjalannya waktu banyak orang yang datang untuk membuka lahan pertanian (persawahan) serta membangun pemukiman di tempat itu. Dari tahun ke tahun semakin banyak orang yang datang ke tempat itu sehingga membentuk kelompok masyarakat dan berkembang menjadi sebuah perkampungan, karena tanah sawah (pertanian) di tempat itu cukup subur sehingga lokasi pertanian dinamakan Orong Perian (Perian artinya tanah sawah yang subur). Sejalan dengan berkembangnya masyarat di tempat itu di sekitar area makam Patih Akar dan Denda Aminah (Hj. Denda Aminatul Aeni) dijadikan sebagai tempat pemakaman umum yang diberi nama Pemakaman Umum Perian. Meskipun telah menjadi pemakaman umu makam Patih Akar dan Denda Aminah (Hj. Denda Aminatul Aeni) tetap dipelihara, bahkan banyak masyarakat yang datang ke makam Patih Akar untuk Neda (Peneda yang artinya meminta). Orang-orang banyak yang datang memohon dan meminta makam Patih Akar untuk kesembuhan berbagai penyakit, sulit mendapatkan keturunan, bahkan meminta pesugihan, dan konon waktu itu banyak yang berhasil. Dari kebiasaan masyarakat yang datang Neda (Peneda yang artinya meminta) ke makam Patih Akar kemudian dilestarikan menjadi nama perkampungan yaitu Dusun Peneda, dan bersamaan dengan itu pula nama Pemakaman Perian diubah menjadi Pemakaman Umum Dusun Peneda.

Patih Akar bukanlah Punggawa Kerajaan Selaparang, Patih Akar adalah penamaan dari masyarakat karena pada waktu itu belum diketahui nama aslinya. Dinamakan Patih Akar karena perjuangannya menyebrangi atau menaiki Kokok (Sungai) Tanggek yang sangat curam dan dalam dengan menggunakan akar pohon (Patih artinya pejuang=berjuang).

Sekitar tahun 1960an sampai 1970an salah seorang tokoh agama yang berasal dari Jontelak Masbagik yang bernama TGH. Helmi sering datang berkunjung ke Makam Patih Akar dan setiap kali kunjungannya beliau selalu bermunajat dari hasil munajat tersebut baru didapatkan informasi bahwa nama asli dari Patih Akar adalah Sayid Haji Abdul Munir yang berasal dari Tanah Jawa dan salah seorang keturunan Wali Songo.

Hingga saat masih banyak orang yang datang berziarah (berkunjug) ke Makam Patih Akar bahkan dari luar Dusun, banyak yang bersala dari Senggigi yang bertujuan hanya untuk berziarah, bersilaturrahi, dan berkhalwat terutama di Bulan Rabiul Awal/ Bulan Maulid dan hari-hari besar Islam lainnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *