Penelusuran Makam Reban Loang

Penelusuran/Pencarian Arsip Cagar Budaya dilakukan pada hari Kamis tanggal 13 Juni tahun 2019 di wilayah Kecamatan Suela. Adapun Arsip Cagar Budaya yang di telusuri adalah Makam Batu Basomg yang berada di Desa Suntalangu. Sebelum turun ke lokasi tim penelusuran terlebih dahulu berkoordinasi ke kantor Camat Suela dengan Sekertaris Camat (Mukkarahman, S.STP) dan ke Kantor Desa Suntalangu dengan Kepala Desa (Habibbuddin) dan Kasi Perencanaan (Rusman Hakim). Pada saat dilakukan penelusuran Tim di dampingi oleh dua orang narsumber yaitu Kepala Desa (Habibbuddin) dan Kasi Perencanaan (Rusman Hakim).

Makam Batu Basong terletak di Dusun Suntalangu berbatasan dengan Desa Ketangga, dan berjarak 500 meter dari pusat Desa Suntalangu. Untuk menuju ke lokasi makam ditempuh dengan menyebrangi Kokok (Sungai) Otak Desa dengan lebar kurang lebih 15 meter dan di atas Kokok (Sungai) Otak Desa terdapat reban (parit) yang bernama Reban Loang, di atas parit Reban Loang inilah keberadaan Makam Batu Basong. Luas area makam secara keseluruhan sekitar 20 meter x 15 meter yang kemudian luas tersebut dibagi 2 bagian yang masing-masing diskat dengan tembok. Area pertama khusus untuk makam dan area kedua tempat acara Roah/Sedeka (makan bersama) orang yang datang berziarah dan atau memenuhi nazar yang masing-masing memiliki luas yang sama yaitu 15 meter x 10 meter.

Khusus di area pertama terdapat 5 makam, terdiri dari 1 makam induk yang berukuran 3 meter x 1,5 meter yang merupakan makam H. Sayid Abd. Hamid dan empat makam di sampingnya yang berukuran lebih kecil merupakan makam dari pengikutnya yang belum diketahui nama-namanya, Makam Batu Basong diperkiran sudah ada sejak abad ke-16 (tahun 1501-1600). Menurut penuturan narasumber (Rusman Hakim) H. Sayid Abd. Hamid adalah keturunan dari Tuan Lebe seorang tokoh penyiar Agama Islam yang berasal dari Bagdath (Irak) yang berhasil meng-Islam-kan masyarakat Desa Ketangga.

Semula Makam Batu Basong berada di Dusun Batu Basong yang termasuk wilayah Desa Ketangga, begitupula Desa Suntalangu masih masuk dalam wilayah Dusun Batu Basong. Kemudian pada tahun 1976 terjadi pemekaran desa dan sejak itulah terbentuk Desa Suntalangu yang merupakan pecahan dari Desa Ketangga. Desa Suntalangu memiliki enam dusun antara lain Dusun Suntalngu, Dusun Batu Basong I, Dusun Batu Basong II, Dasan Baru, Dasan Modek, dan Dusun Lelonggek. Sejak tejadi pemekaran desa posisi atau keberadaan Makam Batu Basong ini berada di wilayah Dusun Suntalangu dan sejak itulah nama Makam Batu Basong diganti dengan nama Makam Reban Loang karena keberadaannya tepat di atas parit Reban Loang.

Sampai saat ini Makam Batu Basong (Makam Reban Loang) masih dikramatkan (disakralkan) oleh masyarakat, hal ini terlihat dari banyaknya orang datang berziarah (berkunjung) ke makam tersebut. Waktu berkunjung pun tidak terbatas pada hari-hari tertentu, bahkan hampir setiap hari ada saja orang yang datang berziarah (berkunjung) ke makam tidak hanya masyarkat setempat lebih banyak yang datang dari desa-desa lain bahkan banyak juga masyarakat yang berasal dari Lombok Tengah. Adapun pengunjung yang datang berziarah ke makam dengan tujuan untuk syukuran dan memenuhi nazar dan sekaligus Roah/Sedeke (makan bersama) di tempat tersebut.

Selain menelusuri Makam Batu Basong (Makam Reban Loang) tim penelusuran juga menelusuri Cagar Budaya Batu Basong (artinya anjing) yang lokasinya berada di Dusun Batu Basong I Desa Suntalangu Kecamatan Suela yang berjarak kurang lebih 800 meter dari pusat Desa Suntalangu. Cagar Budaya Batu Basong adalah batu yang mirip ajing sedang duduk yang memiliki diameter sekitar 1,2 meter dan tinggi 1,5 meter. Konon batu ini ada sejak abad ke-16 ketika terjadi perang antara Kerajaan Selaparang dan Kerajaan Bali yang kemudian  Kerajaan Selaparang mengalami kekalahan sehingga Raja Selaparang dan pengikutnya melarikan diri, pada saat melarikan diri Raja Selaparang membawa anjingnya yang konon sangat setia hingga sampai ke pinggir Kokok (Sungai) Otak Desa, Pada saat menyebrangi sungai Raja Selaparang tidak mampu membawa anjingnya dan ditinggalkan di pinggir sungai karena pada waktu itu sedang terjadi blabur (banjir besar). Selang beberapa bulan setelah air sungai surut Raja Selaparang kembali ke sebrang sungai dengan maksud menjemput anjingnya tapi pada saat sampai di tempat dimana anjingnya ditinggalkan di situ ditemukan anjingnya sudah berubah menjadi batu. Hingga saat ini batu tersebut masih dinggap angker dan dipercaya memiliki penunggu,  yang konon pada malam-malam tertentu khususnya pada malam Jumat sering terdengar suara gonggongan atau lolongan anjing pada batu tersebut.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *