Penelusuran Lingkok Kento

Kegiatan penelusuran/pencarian Arsip Cagar Budaya dilakukan pada hari Rabu tanggal 25 April 2019. Sesuai jadwal awal yang telah ditentukan Tim penelusuran akan menelusuri situs “Geseng” yang berada di Desa Jenggik Utara Kecamatan Montong Gading. Sampai di Desa Jenggik Utara dan bertemu langsung dengan Kepala Desa ternyata “Geseng” tersebut tidak ditemukan karena tidak ada wujud atau bentuk asli hanya cerita yang berkembang di masyarakat. Sehingga kepala desa menyarankan tim penelusuran untuk mengunjungi sebuah tempat lain yang juga merupakan budaya dari masyarakat setempat. Narasumber pada penelusuran ini yaitu Amaq Rizal (Keponakan Alm. H. Arif – penjaga pertama) dan (Amaq Mariun (75 Tahun – Marbot Masjid Dusun Gunung Kento) didampingi oleh Kepala Desa Jenggik Utara.

Tempat yang dimaksud tersebut merupakan tempat “Nyeleng (membuat minyak)”  terletak di tebing kaki Gunung Kento yang bernama Lingkok Kento (Lingkok berarti sumur kecil, kento berarti sesuatu yang tidak terlihat) yang terelatak sekitar 500 Meter ke arah selatan dari Kantor Desa Jenggik Utara. Lingkok Kento ini merupakan tempat mengambil air masyarakat ketika akan membuat minyak (Nyeleng) khusus yang dapat digunakan untuk penyembuhan. Lingkok Kento memiliki ukuran kecil tidak sebesar lingkok pada umumnya yang dapat menampung banyak air, bahkan Lingkok Kento ini memiliki air hanya pada waktu tertentu saja. Konon katanya Lingkok Kento merupakan tempat pemandian “Den Terune Kento” yaitu penjaga Gunung Kento yang tidak terlihat.

Lingkok Kento dikeramatkan oleh sebagian warga sekitar karena memiliki beberapa kelebihan dan keunikan, antara lain;

  1. Lingkok Kento memiliki air hanya pada waktu tertentu yaitu bulan Rabiul Awal (bulan Maulid) pada Malam Jumat setiap tanggal ganjil melalui ritual yang dilaksanakan dan hanya menghasilkan satu sampai dua gelas air saja. Adapun syarat-syarat ritual yang Lingkok Kento yaitu:
  • Beras secatu
  • Kepeng seratus ribu
  • Manuk/ayam jantan warna bulu bing kuning
  • Benang stokel
  • Lekok lekes (Daun sirih, kapus pamak, gambir, dan pinang)

Setelah semua persyaratan ritual terpenuhi sang juru kunci mengucapkan “ni ku tempesang kepeng kepeng satus satak siu sekek lawananne” yang artinya “ini ku persembahkan uang seratus dua ratus seribu satu lawanannya”. Tidak lama setelah ritual tersebut selesai keluar air dari Lingkok Kento hanya sekitar satu atau dua gelas, jika yang didapat du gelas maka sudah sangat beruntung orang-orang yang melakukan ritual tersebut.

Air yang didapatkan dari Lingkok Kento tersebut kemudian dicampurkan dengan air biasa agar lebih banyak untuk membuat santan kelapa pada proses membuat minyak (Nyeleng). Kelapa yang digunakan dalam pembuatan minya (Nyeleng) tersebut juga harus memiliki ketentuan yaitu harus kelapa hijau yang ketika dipetik tidak boleh jatuh ke tanah sehingga dipetik dengan dikerek oleh tali, dan ketika dikupan menggunakan parang beralaskan tikar tidak menggunakan alat pemanges (pembelah) kelapa.

Pada proses pembuatan minyak (Nyeleng) siapapun diperbolehkan ikut dengan memanjatkan doa-doa terlebih dahulu kepada Allah SWT oleh tokoh-tokoh agama setempat sebelum melakukan pembuatan minyak(Nyeleng), bahkan di sekitar tungku pembuatan minyak (Nyeleng) yang jaraknya kurang lebih 25 Meter dari lokasi Lingkok Kento didirikan tenda/terop untuk menampung masyarakat untuk ikut serta dalam ritual pembuatan minyak (Nyeleng).

Sesuai dengan yang disampaikan oleh naraumber minyak yang dihasilkan dari air Lingkok Kento di Gunung Kento bisa untuk kekebalan tubuh dari senjata tajam. Sesuai tradisi sejak zaman dahulu bahwa setelah selesai pembuatan minyak (Nyeleng) para lelaki langsung coba meminum minyak tersebut kemudian tubuhnya ditebas dengan pedang/klewang dan menurut narasumber orang-orang tersebut tidak terluka sedikitpun.

  1. Air di Lingkok Kento dapat digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit. Berbeda dengan air Lingkok Kento yang dapat digunakan untuk kekebalan tubuh, air lingkok kento juga dapat diguanakan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit tanpa melakukan pembuatan minyak (Nyeleng terlebih dahulu. Ritual pengambilan air sama seperti yang dilakukan untuk pengambilan air ketika akan melakukan pembautan minyak (Nyeleng) hanya saja persyaratan yang dibawa berebeda, waktu pengambilan air bisa kapan saja, dan air langsung diminum tanpa diolah terlebih dahulu.

Adapun syarat yang harus dibawa ketika ritual untuk penyembuhan penyakit, yaitu;

  • Empok-empk reket (ketan yang digoreng tanpa minyak goreng)
  • Lekok Lekes (Daun sirih, kapus pamak, gambir, dan pinang)
  • Rokok pilitan daun jagung

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *