Penelusuran Makam Patih Monggok

Kegiatan penelusuran/pencarian Arsip Cagar Budaya dilakukan pada hari Kamis tanggal 02 Mei 2019. Sasaran penelusuran ini yaitu Makam Patih Monggok yang berkolasi Dusun Karang Petak Desa Aikmel Utara Kecamatan Aikmel. Makam Patih Monggok berada di Bukit Montor Monggok yang memiliki ketinggian 100 meter dari permukaan tanah Dusun Pungkasan Desa Kembang Kerang Utara. Makam ini memiliki jarak 3 km dari dari Pusat Desa Aikmel Utara jika ditempuh melalui Desa Kembang Kerang Utara, dan memiliki jarak tempuh 2 km jika ditempuh melalui Dusun Lian Desa Aikmel Utara. Namun karena kondisi jalan yang sangat terjal dan belum diaspal sehingga tim penelusuran melewati jalan dari Desa Kembang Kerang Utara.

Pada saat melakukan penelusuran tim didampingi oleh 4 orang narasumber Kepala Desa Aikmel Utara (H. Kemah), Sekdes Aikmel Utara (Irwan Rosidi), Kadus Karang Petak Desa Aikmel Utara (Lalu Supardi), dan Sekdes Kembang Kerang Daya (Zaenal Hadi). Ada 2 tempat yang berkaitan dengan Makam Patih Monggo yang pertama “Kolam Aik Asak” yang merupakan kolam mata air yang tidak pernah kering dengan ukuran 2×3 meter dan terdapat batu tempat mengasah dengan ukuran kurang lebih 1 meter yang terletak tepat dipinggir kolam mata air. Kolam Aik Asak terletak di Dasan  Lian Timuk kurang lebih sekitar 1 km dari pusat Desa Aikmel Utara, menurut sejarahnya pada zaman perang tempat ini merupakan tempat beristirahat dan mengatur siasat perang serta untuk “mengasah atau menajamkan senjata” oleh para prajurit.

Yang kedua yaitu tempat keberadaan Makam Patih Monggok di Bukit Montor Monggo yang memiliki luas kurang lebih 500 m2, makam ini pada zaman dahulu kemungkinan merupakan pemakaman umum hal ini terlihat dari banyaknya sisa-sisa makam di tempat tersebut yang sudah tidak terurus lagi. Khusus Makam Patih Monggok dibuatkan bangunan permanen dengan ukuran 4×3,5 m dan pernah direhab pada tahun 2016. Berjarak kurang lebih 20 m dari makam patih monggok terdapat juga 2  makam yang dibuatkan bangunan permanen tetapi tidak diketahui siapa yang dimakamkan di tempat tersebut, melihat batu nisan yang digunakan pada makam tersebut yang terbuat dari batu asli yang bentuknya telah diukir dimungkinakan kedua makam tersebut makam bangsawan Kerajaan Pejanggik. Di sebelah 2 makam terdapat makam yang memiliki bentuk lain dari pada yang lain, yaitu makam berbentuk bundar dengan diameter sekitar 3 m yang konon merupakan makam dalang kerajaan yang namanya juga belum diketahui oleh narasumber.

Makam Patih Monggok diperkiran telah ada sejak abad ke-16 (tahun 1592) hal ini tertulis pada dinding makam. Nama asli Patih Monggok yaitu Akar yang juga tertulis pada dinding makam, yang konon memiliki asal usul dari Kelayu. Menurut Narasumber Lalu Supardi yang mendapat cerita dari kakeknya yang bernama Lalu Makrup (Mamik Aripin) yang meninggal pada tahun 2004 pada usia lebih dari 100 tahun yang konon merupakan keturunan Kerajaan Pejanggik. Asal Muasal cerita Kerajaan Pejanggik memiliki seorang patih yang sangat sakti yang bernama Banjar Getas yang kekuatannya sangat diakui bahkan raja pun takut padanya. Konon Patih Banjar Getas memiliki istri yang sangat cantik yang disukai oleh Raja Pejanggik. Pada suatu ketika, saat Raja Pejanggik hendak menaiki punggung kudanya menggunakan paha Patih Banjar Getas, tanpa sengaja Patih Banjar Getas melihat Raja menggunakan pakaian dalam istrinya sehingga saking marahnya Patih Banjar Getas menebas kaki kuda yang dinaiki raja. Ketika itu Raja sangat marah dengan apa yang dilakukan patihnya, namun tidak berani melakukan apa-apa karena kesaktian Patih Banjar Getas yang tidak tertandingi. Sehingga Raja Pejanggik secara diam-diam meminta bantuan pada Raja Bali untuk membunuh Banjar Getas. Mendengar Raja ingin membunhnya Banjar Getas menyamar dan menunggu para prajurit Kerjaan Bali yang akan membunuhnya di tepi pantai. Ketika Prajurit Kerajaan Bali itu datang Patih Banjar Getas berdialog mengenai tujuan kedatangan para prajurit itu datang, kemudian Banjar Getas menyampaikan “jika kalian membunuh Patih Banjar Getas kalian tidak akan mendapatkan apa-apa, sedangkan jika kalian membunuh Raja Pejanggik kalian akan mendapatkan kerajaan” kemudian Patih Banjar Getas dan Prajurit Kerjaan Bali mengatu siasat untuk menyerang Raja Pejanggik.

Pada waktu bersamaan Raja Pejanggik sedang mempersiapkan jamuan untuk menyambut prajurit dari Kerajaan Bali, tanpa persiapan apapun Kerajaan Pejanggik mendapat serangan dari Kerajaan Bali sehingga terjadilah perang dan pada akhirnya Kerajaan Pejanggik mengalami kekalahan hingga melarikan diri ke Bukit Monggok Atas dan membuat pertahanan di sana. Karena tempat yang sangat strategis beberapa kali di serang oleh Kerjaan Bali tidak berhasil membunuh Raja Kerjaan Pejanggik, anak panah yang dilemparkan ke Arah Bukit Monggok Atas berbelok melukai prajurit Kerajaan Bali, sehingga para prajurit Kerajaan Bali mencari cara untuk membubarkan pertahanan Kerjaan Pejanggik. Kemudian ditemukan cara dengan meniupkan hewan berbentuk ulat atau cacing yang berhasil membuat Raja Pejanggik dan para prajurit Pejanggik yang dipimpin oleh Patih Monggok atau Akar tidak tahan kemudian melarikan diri untuk bersembunyi dan menetap membentuk pemukiman di Bukit Montor Monggok. Pada suatu ketika tempat itu diserang oleh ulat yang memakan habis dedaunan yang berada di bukit itu, sehingga orang-orang yang berada di bukit itu untuk menghindari ulat pergi atau berlalu meninggalkan tempat itu hingga sampai ke Kelayu (Kelayu berarti pergi atau berlalu). Sehingga hingga saat ini diyakini bahwa asal usul masyarakat atau orang Kelayu berasal dari Bukit Montor Monggok. Hal ini diperkuat dengan seringnya hingga saat ini yang banyak datang berkunjung untuk berziarah ke Makam Patih Monggok orang-orang yang berasal dari Kelayu.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *